Senin, 10 Mei 2010

kedua telinganya telah dikencingi oleh setan

Bila seseorang diikat lalu kupingnya dikencingi, bagaimana sikap dan perasaan orang tersebut?. Lalu bagaimana jika yang mengencingi adalah setan?. Simak pembahasan berikut, semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufiq kepada kita semua. Amin.

Kencing adalah benda najis dan menjijikkan. Bahkan mencium baunya saja kita eneg, apalagi kalau sampai kita dikencingi orang lain, tentunya kita pasti marah. Dan akan lebih marah lagi bila yang dikencingi adalah organ tubuh kita yang dimuliakan, yakni kuping. Karena ini sama saja dengan pelecehan dan penghinaan besar-besaran.

Mari kita tengok sejenak hadits nabi yang menjelaskan tentang orang yang ke dua telinganya dikencingi setan. Na’udzubillah min dzalik.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : “Pernah dilaporkan kepada Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam seorang pria yang tidur pada waktu malam sampai pagi (tidak shalat malam dan shalat shubuh), maka nabi pun bersabda : “Orang itu, kedua telinganya telah dikencingi oleh setan”. (HR. Muslim No. 1293)

Percaya atau tidak, ini adalah hadits nabi yang wajib diimani.

Barang kali ada yang nyletuk, mana buktinya, kan tidak terasa kencingya ? Kita jawab, sebagaimana setan adalah makhluk ghaib maka kencingnya pun termasuk barang ghaib yang tidak dapat dirasakan dengan panca indera. Karena bila kencingnya setan ini dapat dirasakan akan hilanglah hikmah untuk beriman kepada sesuatu yang ghaib, bahkan keghaiban ini menjadi ujian bagi kita, apakah kita akan mengimaninya atau tidak.


Setan Mengikat Tengkuk Manusia

Alarm Hp berbunyi, adzan shubuh pun sangat jelas terdengar, tapi rasanya mata ini susah untuk dibuka dan rasa malas pun menyelimuti tubuh kita untuk bangun melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Mungkin ini pernah terjadi pada diri kita, atau tidak menutup kemungkinan hal ini terjadi berkali-kali pada diri kita. Apa sebabnya ?

Sebabnya tidak lain adalah seperti yang dituturkan oleh as-Shadiqul Masduq (Orang yang benar lagi dibenarkan) Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam dalam sabdanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam bersabda :“Setan mengikat pada tengkuk setiap orang diantara kalian dengan tiga ikatan (simpul) ketika kalian tidur. Setiap simpulnya ditiupkanlah bisikannya (kepada orang yang tidur itu): 'Bagimu malam yang panjang, tidurlah dengan nyenyak.' Maka apabila (ternyata) ia bangun dan menyebut nama Allah Ta’ala (berdoa), maka terurailah (terlepas) satu simpul. Kemudian apabila ia berwudhu, terurailah satu simpul lagi. Dan kemudian apabila ia sholat, terurailah simpul yang terakhir. Maka ia berpagi hari dalam keadaan bersemangat dan bersih jiwanya. Jika tidak (yakni tidak bangun sholat dan ibadah di malam hari), maka ia berpagi hari dalam keadaan kotor jiwanya dan malas .” (HR. Al-Bukhari no.1142 & Muslim no. 776)

Itulah tiga hal yang menjadikan seseorang bangun kesiangan, yakni ketika terjaga dari tidur tidak berdzikir (berdoa), tidak berwudhu dan tidak melaksanakan shalat malam atau shalat shubuh. Sehingga orang ini seolah menjadi tawanan setan dengan kedua tengkuknya diikat, maka setan pun mudah untuk menghinakannya dengan cara mengencingi kedua telinganya. Wal ‘iyyadzu billah.

Padahal shalat shubuh memiliki keutamaan yang istimewa dibanding shalat wajib lainnya. Bahkan shalat sunnah qabliyahnya saja pahalanya lebih baik dari pada dunia beserta isinya, sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam dalam sabdanya;
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : Bahwasanya Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda : “Dua rakaat shalat sunnah sebelum mengerjakan shalat shubuh pahalanya lebih baik dari pada dunia dan segala isinya”. (HR.Muslim no.725)

Akankah pahala yang besar ini akan kita tukar hanya dengan kesenangan sesaat berupa buaian mimpi ? Dimanakah kecerdasan kita sebagai orang yang berakal ?

Maka tidak aneh bila tauladan dan panutan kita tidak pernah meninggalkan dua rakaat tsb. selama hayatnya baik ketika muqim maupun ketika safar.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, Nabi ‘alaihis shalatu was salam tidak pernah menjaga shalat sunnah sebagaimana beliau menjaga shalat sunnah dua rakaat sebelum shubuh. (HR.al-Bukhari no.1093 Muslim no.1191) Dan dalam riwayat yang lain, Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan dua rakaat tadi selamanya”. (HR.al-Bukhari no.1159)

Keutamaan Shalat Shubuh Berjamaah

Ada beberapa hadits nabi yang menerangkan tentang keutamaan shalat shubuh berjamaah, semoga dengan menyimaknya akan memotivasi kita untuk mengamalkannya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
“Shalat berjama’ah lebih utama dibanding shalatnya salah seorang dari kalian dengan sendirian dengan dua puluh lima bagian. Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” Abu Hurairah kemudian berkata,“Jika mau silakan baca, “Sesungguhnya bacaan (shalat) fajar disaksikan (oleh para malaikat).” (QS. Al Israa: 78). (HR. Al-Bukhari no. 137 dan Muslim no.632)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata. Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam bersabda :

“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 644 dan Muslim no. 651)

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata. Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam bersabda :

“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)

Jundab bin abdillah al-Qasyri berkata, Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam bersabda :“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 163)

Penjelasan ringkas:

Shalat subuh merupakan shalat yang agung lagi disaksikan. Disaksikan oleh para malaikat yang bertugas di malam hari dan yang bertugas di siang hari, karena pada saat shalat subuh itulah mereka bergantian, malaikat malam naik ke langit dan malaikat siang turun ke bumi. Barangsiapa yang mengerjakannya secara berjamaah -dengan syarat dia juga mengerjakan shalat isya secara berjamaah- maka sungguh seakan-akan dia telah shalat semalam suntuk. Dan orang yang mengerjakan shalat subuh maka dia berada dalam tanggungan, jaminan, dan penjagaan dari Allah. Dialah yang akan mengambilkan haknya dari orang lain yang telah melanggar haknya dengan kezhaliman.

Semua keutamaan di atas hanya pantas didapatkan oleh seorang mukmin sejati. Karenanya shalat yang paling berat atas orang munafik adalah shalat subuh ini, karena mereka tidak pantas untuk mendapatkan semua keutamaan di atas.
(Dinukil dari www.al-atsariyyah.com)

Dan kalau kita cermati orang yang bangun kesiangan, dia akan malas untuk menyambut hari barunya di pagi hari dengan aktivitas dan amal shaleh. Padahal waktu pagi adalah waktu yang berbarakah. Karena waktu ini secara khusus telah didoakan oleh nabi kita ‘alaihis shalatu wassalam.
Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

Apabila Nabi shallallahu mengirim peleton pasukan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri (yang meriwayatkan hadits ini, pen) adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta. Abu Daud mengatakan bahwa dia adalah Shokhr bin Wada’ah. (HR. Abu Daud no. 2606. Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud)

Maka kebiasaan para ulama menjadikan waktu pagi, yakni setelah shalat shubuh mereka berzikir maupun membaca al-Qur’an. Bahkan nabi pun bila tidak ada keperluan, beliau tidak meninggalkan tempat shalatnya ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit.
An Nawawi dalam Shohih Muslim membawakan bab dengan judul ‘Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat shubuh dan keutamaan masjid’. Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in –Simak bin Harb-. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh,

“Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?”
Jabir menjawab,
“Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.” (HR. Muslim no. 670)

An Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir setelah shubuh dan mengontinyukan duduk di tempat shalat jika tidak memiliki udzur (halangan).Al Qadhi mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama.Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdo’a hingga terbit matahari.” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/29, Maktabah Syamilah)

Dan biasanya beliau juga melakukan shalat isyroq, yakni shalat sunnah dua rakaat setelah matahari terbit.
Dari Anas berkata , Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam bersabda ;

“Barangsiapa mengerjakan shalat shubuh berjamaah, kemudian duduk sambil berdzikir kepada Allah hingga terbitnya matahari. Lalu mengerjakan shalat dua rakaat (shalat isyroq) maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna dan sempurna’. (Hasan, riwayat tirmidzi, lihat shahih sunan Tirmidzi 1/182)

Maka waktu setelah shubuh hendaknya kita gunakan untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk dunia maupun akhirat. Janganlah waktu yang berbarakah ini kita gunakan untuk tidur lagi. Karena tidur di waktu pagi banyak sekali mudharat/bahayanya.

Ibnul Qayyim berkata :Menurut para salaf, tidur yang terlarang adalah tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit...(Madarijus Salikin, 1/459, Maktabah Syamilah)
Ibnul Qayyim berkata, "Empat hal yang menghambat datangnya rizki adalah [1] tidur di waktu pagi, [2] sedikit sholat, [3] malas-malasan dan [4] berkhianat." (Zaadul Ma’ad, 4/378) dan Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat. (Zaadul Ma’ad, 4/222)
(dinukil dari : rumaysho.com)

Referensi :
1.Shahih Fiqh Sunnah jilid I, Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayid Salim, Maktabah Taufiqiyah Mesir.
2.Web Site : www.al-atsariyyah.com dan www.rumaysho.com

print this page

0 komentar:

Posting Komentar